Taushiyah Ustd Arifin Ilham: Dahsyatnya Berbaik Sangka

Selain doa dan ikhtiar, ada amalan lain yang juga mengantarkan proses “perubahan takdir”. Amalan itu adalah amalan hati, yaitu selalu berbaik sangka (husnuzhan) dengan semua keputusan Allah.

Berbaik sangka merupakan produk dari olahan kekuatan iman. Tidak mungkin seseorang memiliki kemuliaan akhlak berupa husnuzhan, jika tidak yakin dengan segala sesuatu yang sudah diputuskan oleh Allah Ta’ala. Seseorang yang mengaku beriman sadar benar bahwa dari setiap peristiwa, maka Allah Ta’ala telah mentransformasikan mutiara hikmah untuk manusia. Yakni, sesuatu yang berharga yang hilang milik orang beriman (al-hikmatu zhalatul mu’minin).

Artinya kejadian yang menimpa kita, pasti ada kadar atau nilai berharga yang sudah dipersiapkan untuk kita. Namun, sementara ini belum ditemukan. Karena itulah, kata Imam Ali karramallahu wajhah, “jika kita menemukannya, segeralah diambil; fain wajadaha akhadzaha

Pertanyaannya, bagaimana bisa mengambil  barang berharga itu, sementara kita sulit untuk mendeteksinya. Disinilah peranan amalan hati, yaitu husnuzhan. Jika kita mempersangkakan bahwa ada banyak kebaikan yang telah Allah Ta’ala sediakan untuk kita dari takdir-Nya itu, akan benarlah persangkaan kita.

Karena itu, bagaimana rupa takdir kita ke depan, turut ditentukan dari persangkaan kita terhadap-Nya. Simak hadits Qudsy berikut, “Anna ‘inda zhanni ‘abdi bih, wa Ana ma’aka idza da’awtani”, Aku mengikuti persangkaan Hamba-ku tentang Aku. Dan Aku bersamamu jika memohon kepada-Ku.” 

Dengan demikian, husnuzhan bisa mengantarkan seseorang meraih apa yang diharapkan. Kalaulah kita saat ini sedang berduka karena kegagalan, bersegeralah husnuzhan bahwa akan ada kebaikan setelah kegagalan itu. Yakinlah bahwa takdir kita ke depan pasti dipenuhi dengan takdir kesuksesan. Tetaplah optimis. selama hari masih menjelang, kesempatan meninggalkan kegelapan malam masih selalu terbuka. Dan, kita akan berada di jalur siang yang terang benderang.

Keberuntungan orang yang husnuzhan, tak hanya didapatkan di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Rasul menyebut orang yang husnuzhan sebagai pemegang kunci surga. Dalam sebuah taklim di hadapan para sahabatnya, Rasul mengatakan bahwa sebentar lagi akan masuk seorang yang kelak akan memegang kunci surga. Semua sahabat terpana. Sampai seorang Umar bin Khattab “iri” dengan penyematan istilah tersebut. Tidak lama kemudian masuklah orang yang dimaksud.

Orang itu penampilannya biasa-biasa saja. Tidak ada ciri khusus. Karena penasaran, Umar minta izin untuk menginap di rumah orang tersebut. Tiga hari Umar R.A menginap di rumah orang ini. Namun, Dia tidak menemukan amalan khusus orang tersebut.

Ketika Umar bertanya, apa rahasianya. Orang itu menjawab, “Ibadah dan amalanku sebenarnya biasa saja, wahai Umar. Hanya selama hidupku, aku diajari oleh ibuku untuk tidak punya perasaan buruk sangka terhadap apapun  dan siapapun. Barangkali itulah amalan yang dimaksud Rasululullah SAW.”. Sumber Republika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: