Cara Mudah dan Gampang Agar Sabar Menghadapi Cobaan Hidup Yang yang Berat

Barangkali kata “sabar” adalah kata yang paling sering kita dengar dalam hidup kita, utamanya saat rundung masalah, mengalami kesulitan dan tertimpa musibah. Kata “sabar” menjadi kata penenang atas segala ujian dan badai kehidupan.

Menurut Ibnu Qoyyim sabar itu dibagi tiga; yakni sabar dalam melaksanakan ketaatan, sabar dalam menjauhi dosa dan kemaksiatan, serta sabar dalam menghadapi takdir.

Orang yang sedang shalat harus bersabar, yaitu tetap mengikuti setiap gerakan dan aturannya hingga shalat tersebut usai yang ditandai dengan salam. Sabar dalam shalat artinya berusaha menahan diri dari hal-hal yang membatalkan shalat tersebut, baik ucapan atau perbuatan.

Seperti tidak menghentak-hentakkan kaki karena merasa capek atau ngobrol dengan rekan sesama jamaah dalam shalat atau menggerutu dan tergesa-gesa dalam melaksanakannya.

Sabar menjauhi dosa, yaitu berusaha untuk mengalihkan perhatian kita dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan menahan diri agar tidak terjerumus dengan hal-hal yang haram yang berada di hadapan mata.

Ingat, nafsu akan selalu berontak untuk dilampiaskan, tanpa melihat yang halal dan yang haram. Dan syetan mendukungnya. Maka bersabar menghadapi kondisi seperti ini sangatlah berat.

Sabar terhadap takdir, yaitu menerima semua ketentuan Allah yang baik maupun yang buruk  dengan lapang dada dan berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Meyakini bahwa semua yang terjadi di muka bumi ini adalah ketentuan Allah.

Memahami Semua Ujian

Memahami bahwa ini adalah ujian, yang pasti terjadi, dan bagi kita adalah berserah diri dan tidak mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu kecuali yang diridhoi Allah Ta’ala.

Kita adalah milik Allah dan kepada Nya lah kita akan kembali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Sesungguhnya besarnya nya pahala itu tergantung besarnya ujian”.

Ibadah adalah amalan yang melibatkan hati sebagai penopangnya, maka kalau hati sakit seseorang akan merasa berat untuk tetap bersabar dalam beribadah. Oleh karena itu, kita mesti senantiasa menghidupkan hati. Bukan hanya merawat tubuh.

Kalau olahraga dibutuhkan untuk fisik yang prima, tetapi berbeda dengan ibadah, yang dibutuhkan adalah hati yang prima dan sehat agar mampu bertahan dan bersabar di dalam melaksanakannya.

Jadi yang membuat kuat ibadah adalah hati yang selalu rindu dengan Allah, hati yang selalu rindu akan pahala dan surga, hati yang takut akan murka dan siksa Allah, hati yang selalu berfikir tentang akhirat.

Kenapa Harus Sabar?

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman “Dan berilah kabar gembira untuk orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami akan kembali”. (QS. Al Baqarah : 155-156)

Orang yang bersabar itu ibarat orang yang berpuasa, yang dilarang untuk makan minum, berkata kotor atau hal-hal yang bisa membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Begitu juga orang-orang yang bersabar, dilarang untuk makan minum dari yang haram meskipun begitu menggiurkan, atau tetap dengan ketaatan meskipun nafsunya berontak untuk segera berhenti terhitung sejak dia berusia baligh hingga dia menghadap Allah untuk selamanya.

Belajar Bersabar

“…Dan tiada satu manusia pun yang akan dapat bersembunyi atau menghindar dari ujian hidup yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala..”

Sesungguhnya kehidupan dunia ini tak lain hanyalah ruang ujian bagi umat manusia. Bersedia atau pun tidak, setiap manusia akan selalu dihadapkan dengan tantangan hidup yang silih berganti, dari tantangan yang sederhana hingga yang tampak terlalu berat untuk dilalui. Dan tiada satu manusia pun yang akan dapat bersembunyi atau menghindar dari ujian hidup yang telah digariskan oleh Allah  Subhanahu Wata’ala.

Bagi kita orang-orang yang beriman, sesungguhnya tiada ujian hidup yang tidak memiliki jalan keluar. Dan solusi utama bagi kita dalam menghadapi setiap ujian hidup adalah berserah diri atau bertawakkal kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan sungguh-sungguh meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini, sesungguhnya hanya lah milik Allah semata. Semuanya hanyalah pemberian, dan bukan pencapaian atau hasil kerja keras kita sendiri.

Sehingga, dengan meyakini bahwa apa yang ada pada kita sebenarnya hanyalah milik Allah Subhanahu Wata’ala, maka kita pun akan tak pantas untuk melarang Allah Subhanahu Wata’ala atau memprotes-Nya jika memang Dia berkehendak untuk mencabut sesuatu dari kita. Karena memang pada hakikatnya, tidak pernah ada sesuatu yang dari diri kita atau menimpa kita, kecuali itu semua telah ditetapkan olah Allah Subhanahu Wata’ala. Segala musibah dengan ragam bentuknya hanya akan terjadi jika memang Allah Subhanahu Wata’ala mengizinkan-Nya, dan hanya Dia sendiri lah yang mampu menghentikan musibah tersebut jika Dia menghendaki.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Katakanlah; “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah atas kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (QS. At-Taubah : 51)

Membantu Kita Bersabar

Dan keyakinan yang demikian inilah yang akan dapat membantu kita dalam usaha bersabar ketika kita diuji dengan suatu musibah. Dan tanpa keyakinan yang semacam itu, kita pasti akan sangat sulit untuk merelakan sesuatu yang telah hilang dari kita, sehingga akan banyak mengeluhkan keadaan dan akan sulit bersikap positif.

Keyakinan yang kuat bahwa semuanya hanyalah milik Allah Subhanahu Wata’ala akan mempermudah kita dalam usaha bersabar dan berfikir positif dalam menghadapi segala bentuk ujian hidup. Disamping itu, kita juga akan menyadari bahwa memang ujian hidup adalah sebuah ketentuan dari Allah Subhanahu Wata’ala, untuk menguji kebenaran imannya. Dan Allah Subhanahu Wata’ala sendiri juga telah menjanjikan kabar gembira bagi siapapun yang mau bersabar dalam menghadapi setiap ujian yang telah digariskan-Nya tersebut.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?; dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut : 2-3).

Demikian janji  Allah Subhanahu Wata’ala yang telah disampaikan-Nya kepada kita, bahwa jika kita mau bersabar dalam setiap ujian hidup yang ditetapkan-Nya atas kita, maka Allah Subhanahu Wata’ala pasti akan memberikan balasan terbaik bagi kita sebagaimana kita telah berprasangka baik kepada-Nya.

Latihan Kesabaran

Dan tentu sebuah kesabaran itu akan memerlukan latihan dan pembiasaan. Seseorang tak bisa merubah kebiasaan mengeluhnya menjadi kebiasaan bersyukur dalam sekejap, melainkan akan butuh latihan dan pembiasaan tersebut. Dan sebagai contoh dari usaha melatih kesabaran dalam diri kita adalah, misalnya; ketika kita sangat kecewa terhadap seseorang karena telah dikelabui olehnya, dan kita tak mampu berbuat apapun untuk menuntut orang tersebut. Maka disinilah kita berusaha untuk belajar bersabar, sambil belajar menyerahkan hakikat urusannya kepada  Allah Subhanahu Wata’ala.

Jadi dalam menghadapi permasalahan semacam ini, mungkin akan lebih baik jika kita bersabar saja sambil tetap bersikap tenang, dan tak perlu sering-sering menciptakan ungkapan negatif tentang masalah tersebut yang justeru akan menyebabkan keresahan. Karena Allah Subhanahu Wata’ala sendiri telah berjanji bahwa kebenaran pasti akan menang pada akhirnya, baik kemenangan tersebut didahulukan di dunia ini, ataupun diakhirkan di akhirat kelak. Sesungguhnya tidak akan pernah ada istilah rugi bagi mereka yang mencari kebenaran dengan penuh kesabaran.

Dan sebagian contoh lainnya juga dari usaha melatih kesabaran tersebut adalah misalnya; dengan bersabar menahan prasangka yang sering muncul tanpa terkendali dalam benak kita. Tentu kita ingat bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah melarang kita dari banyak berprasangka, apalagi hingga mengumumkannya tanpa kebenaran. Namun kesabaran dalam usaha menjauhi larangan tersebut itulah yang tampaknya tidak cukup mudah.

Kita kadang kurang bersedia untuk bersabar menyimpan prasangka terhadap seseorang hingga akhirnya menceritakannya dihadapan orang lain, meskipun yang kita persangkakan tersebut adalah perkara batin, seperti isi hati, niat dan semacamnya, yang tentunya itu semua adalah perkara gaib yang hanya pemilih hati itu sendiri dan  Allah Subhanahu Wata’ala  sajalah yang tahu persis.

Maka dari itu, mungkin kita akan perlu mengingat kembali bahwa perkara batin berupa isi hati, niat, keimanan, ketaqwaan dan yang semacamnya, sebenarnya hanyalah menjadi wilayah  Allah Subhanahu Wata’ala semata. Sebaiknyalah kita menjauhi perkara yang telah jelas dibenci oleh Allah Subhanahu Wata’ala tersebut, yaitu banyak berprasangka. Dan jika banyak berprasangka saja telah dibenci oleh Allah Subhanahu Wata’ala, maka terlebih lagi jika sampai mengumumkan prasangka. Dan semoga kita diberi kesabaran dalam usaha menjauhi bentuk dosa semacam itu.

Dan mungkin beberapa usaha untuk dapat menjauhi sifat berprasangka tersebut adalah diantaranya dengan banyak mengingat nikmat yang telah ada pada diri kita sendiri. menyadari bahwa segala kemampuan, apapun bentuknya, sebenarnya hanyalah milik Allah Subhanahu Wata’ala , sering melihat keadaan orang lain yang lebih susah dan lebih tidak mampu dari kita, tidak cenderung tertarik merendahkan orang lain yang lemah, berusaha untuk turut berbahagia ketika orang lain sedang bahagia, dan segala bentuk usaha lainnya yang berkaitan dengan upaya melembutkan hati.

Dan insha Allah, jika Allah Subhanahu Wata’ala  telah berkehendak memberi kita kemudahan dalam menempuh usaha-usaha tersebut, niscaya tenteram dalam keadaan apapun. Wallahu ‘alam.

Hidup adalah Ujian, Maka bersabarlah*

Baru kali ini Laurence Brown, seorang dokter yang bertugas di rumah sakit (RS) militer AS merasa lemah tak berdaya. Sambil menangis di sebuah ruang kecil di RS, dia berdoa “Oh Tuhan, jika Engkau memang ada tolonglah aku dan tuntunlah aku.” Brown yang selama ini mengaku ateis ‘terpaksa’ berdoa kehadirat Zat yang selama ini tak ia yakini sama sekali. Putrinya yang baru saja lahir beberapa jam sebelumnya mengalami kelainan pembuluh darah. Tubuhnya membiru.

Bagi dokter seperti Brown, ia paham apa artinya itu. Tapi untuk yang tidak. melihat urat-urat di tangan berwarna biru. Alasannya adalah ketika darah membawa oksigen, maka warnanya merah. Ketika darah tidak membawa oksigen maka warnanya berubah biru dan seperti itulah warna tubuh anaknya.

Ketika pihak RS melakukan Cardiac Ultrasound dan ternyata bayi itu mengalami penyempitan pembuluh darah. Sedangkan pembuluh darah adalah alat transportasi utama yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Dan penyempitan pembuluh darah adalah mengecilnya jalur pembuluh darah.

Brown paham hampir pasti anak ini harus menjalani operasi bedah jantung. Dokter akan membedah jantungnya, menggantikan pembuluh darahnya dengan sebuah graft (saluran buatan) dan anak ini sedang sekarat. Berdasarkan teknologi saat itu (1990), jika bayi ini menjalani operasi, ada peluang berhasil walau hanya sampai beberapa tahu. Lalu, ia harus menjalani operasi lagi untuk mengganti graft-nya seiring dia tumbuh dewasa. Dan pada akhirnya graft itu tidak akan mampu lagi menyokongnya sehingga dia akan mati.

Dan itulah kecemasan Brown waktu itu. Itu juga kecemasan rekan dokter di ICU yang menangani. Jadi, Brown memandang bayi sedang sekarat karena kekurangan oksigen. Ia hanya mengamati dia perlahan-lahan mati.

Saat itulah, seorang ateis mengaku tak berdaya di hadapan Allah Yang Maha Agung. Tak lama kemudian, bayi itu kondisinya membaik tanpa operasi. Ia sembuh tanpa bantuan alat-alat medis. Ajaib, Maka, Brown memenuhi janjinya. Ia belajar berbagai agama. Hingga menemukan bukti-bukti kebenaran dalam Islam. Lalu ia menjadi Muslim dan pendakwah di tengah masyarakat AS.

Bagi penganut ateis manapun, bencana atau musibah (seperti yang dialami Brown) selalu dianggap tragedi. Mereka sering berkata “Bagaimana mungkin tragedi ini terjadi dan kau masih menganggap Tuhan ada?” Padahal tidak semua kematian atau musibah itu tidak dianggap tragedi bagi orang lain.

Bagi mujahid yang berlaga di medan jihad, mati (syahid) adalah pintu masuk menuju surga. Banyak kisah di zaman Rasulullah Shallalahu alaihi wasallam, bahwa para sahabat menjemput kematian seperti menyongsong tamu yang mulia. Bahkan aroma surga telah tercium.

Bagitu juga sakit, tidak selalu berarti bencana bagi sang pasien. Bagi Muslim, sakit (jika dijalani dengan sabar), maka ia akan menjadi penghapus dosa. Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura : 30).

Hidup ini adalah tempat membuktikan apakah kita layak menerima hadiahnya dalam kehidupan akhirat. Surga itu diraih dengan usaha. Kita meraihnya lewat kesusahan, bukan dari kesenangan duniawi.

“Sesungguhnya menakjubkan perkara seorang  mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Sabar itu Indah**

“Jika musibah yang terjadi atas dirimu menjadi pelajaran untukmu, musibah itu sebenarnya merupakan kenikmatan bagimu. Namun jika engkau tidak mampu mengambil pelajaran dari musibah itu, sikapmu itu lah musibah yang paling besar atasmu.” (Muhammad Ibnu Sirrin al-Bashri).

Ungkapan ini merupakan rangkaian dari untaian hikmah dari seorang ulama tentang keadaan seseorang yang menghadapi musibah dan kesabarannya di dalam mengambil pelajaran. Karena keadaan seperti ini (baca:musibah) biasanya membawa pengaruh pada seseorang hingga satu saat bisa tegar menghadapinya. Tapi di saat yang lain, jiwa menjadi sangat lemah dan tak berdaya ketika musibah itu datang. Tapi yakinlah bahwa kesabaran itu dapat menolong semua pekerjaan, baik ringan maupun berat. Asal ada tekad untuk membangun diri melalui bangkitnya kecerdasan spiritual.

Dari segi bahasa, shabr aratinya menahan dan mengendalikan diri agar tidak “dijajah” hawa nafsu dan emosi. Ibnu al-Qayyim mendefinisikan sabar sebagai menahan diri untuk tidak melampiaskan nafsu angkara murka, mengendalikan lidah untuk tidak berkeluh kesah, mengontrol anggota tubuh untuk tidak bertindak anarkhis. Orang yang sabar tidak hanya bersikap lapang dada saat menghadapi kesulitan dan musibah, tetapi juga teguh pendirian (istiqamah) dalam memperjuangkan kebenaran, dan selalu dinamis dan optimis dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Sabar bisa diklasifikasikan menjadi lima, yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, sabar dalam menerima dan menghadapi musibah, sabar dalam menuntut dan mengembangkan ilmu, serta sabar dalam bekerja dan berkarya. Kelima bentuk kesabaran ini berkaitan erat dengan ketahanan mental spiritual, sehingga kesabaran itu selalu menuntut ketahanan jiwa dan kekayaan mental spiritual yang tangguh.

Dalam menuntut ilmu dan berkarya, misalnya kesabaran sangat diperlukan karena kehidupan ini selalu berproses, perlu inovasi, memerlukan waktu dan tidak instan. Ketika “melamar” menjadi murid Khidir, Nabi Musa Alaihi Wassalam diminta memenuhi satu syarat saja dari sekian banyak syarat, yaitu sabar.

Dalam banyak hal, ketidaksabaran merupakan awal dari penyimpangan dan kemerosotan moral. Korupsi misalnya, merupakan wujud dari ketidaksabaran dalam meraih kekayaan secara halal dan legal.

Menurut Ali bin Abi Thalib, sabar itu sebagian dari iman. Nilai sabar itu identik dengan kepala pada tubuh manusia. Jika kesabaran telah tiada, berarti iman dalam diri manusia itu telah sirna.

Sejarah menunjukkan bahwa kemenangan dakwah Islam, antara lain terwujudnya kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian, musibah, tekanan, ancaman, teror dan permusuhan.

Perang Uhud di tahun ke 3 H, sebanyak 300 orang dibawa kembali ke Madinah oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh kaum munafik pada waktu itu dan pasukan muslim hanya 700 orang. Jika keadaan ini tidak dibarengi dengan ketentraman dan kekuatan kesabaran yang tinggi, maka keadaan yang terjadi mungkin beda dan akan berubah peta sejarah kehidupan Islam dan kaum muslimin. Tetapi kesadaran akan hadirnya seorang manusia Agung, (baca: Rasulullah) hadirnya agama yang membawa rahmat untuk umat dan juga untuk alam, maka kesabaran itu menjadi sebuah inspirasi kaum muslimin untuk memperoleh kemenangan.

Pendidikan kesabaran juga merupakan salahsatu cara untuk memperoleh petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala, karena orang yang sabar hanya mau mendengar suara hati nurani, bukan mengikuti hawa nafsu dan emosi (QS. As-Sajdah : 24)

Sabar berarti ikhlas, menerima dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Karena orang sabar itu, apalagi dibarengi dengan kekuatan iman dan amal shaleh untuk membangun manusia seutuhnya, (QS. Al-‘Ashr : 1-3, Al-Baqarah : 158). Ternyata sabar itu Indah. wallahu ‘alam

*Oki Aryono, Fungsionaris Bina Qalam Indonesia

**Drs. Usman Daud, M.A

Sumber: Yatim Mandiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: